Bukan Sekedar Adu! Deden Mulyana Padepokan Mustika Ikuti “Piala Ayam Ningrat Vol. I”
Bandung Barat, (Mitraenamdua.com)_ Suasana meriah dan penuh antusiasme menyelimuti Pamidangan BBS De Landen, Lembang, saat Kontes Seni Ketangkasan Domba Garut bertajuk “Piala Ayam Ningrat Vol. I” resmi digelar pada 25–26 April 2026.
Ajang bergengsi ini tidak hanya menjadi wadah adu prestasi para peternak, tetapi juga menjadi panggung pelestarian seni budaya Sunda yang sarat nilai tradisi.
Beragam hadiah spektakuler telah disiapkan panitia, di antaranya satu unit mobil Suzuki Carry Pick Up untuk kategori Best of The Best, tiga unit sepeda motor Mio M3 bagi juara terbaik di kelas A, B, dan C, serta hadiah lainnya berupa 13 unit sepeda listrik, enam unit kulkas dua pintu, tiga mesin cuci, dan enam unit Smart TV 32 inci. Sementara itu, kategori Favorit Tempur dengan nilai tertinggi juga berhak mendapatkan sepeda listrik khusus.

Salah satu peserta, H. Deden Mulyana dari Padepokan Mustika Jaya asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam ajang ini bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya.
“Kami selalu mengikuti momen ini karena ini bagian dari seni budaya Sunda yang harus kita kembangkan dan jaga. Selain itu, dari kegiatan ini muncul ekosistem perekonomian masyarakat yang baru,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (26/4/2026).
Ia menambahkan, setiap gelaran seni ketangkasan domba Garut mampu mendorong tumbuhnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Banyak UMKM bermunculan, ada yang berjualan pakaian, makanan, hingga aksesoris terkait domba. Ekonomi masyarakat juga ikut terangkat,” katanya.
Tidak hanya berdampak pada sektor UMKM, menurut Deden, kegiatan ini juga meningkatkan nilai jual domba Garut secara signifikan. “Harga domba yang sebelumnya di kisaran lima sampai tujuh juta rupiah, sekarang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Ini tentu meningkatkan kesejahteraan para peternak,” jelasnya.

Dalam ajang ini, Padepokan Mustika Jaya membawa 21 ekor domba yang bertanding di berbagai kelas, yakni A, B, dan C. Pembagian kelas tersebut didasarkan pada bobot domba, mulai dari kelas C dengan bobot kecil, kelas B menengah, hingga kelas A dengan bobot besar.
Lebih lanjut, Deden menjelaskan bahwa penilaian dalam seni ketangkasan domba Garut tidak semata-mata ditentukan dari adu fisik. “Yang dinilai itu banyak aspek, mulai dari kesehatan, teknik bertanding, teknik pukulan, hingga kebersihan, bentuk tanduk, postur atau adeg-adeg, dan penampilan. Jadi bukan sekadar adu saja,” paparnya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam seni ketangkasan domba Garut tidak terdapat unsur perjudian. “Tidak ada perjudian sedikit pun, karena kita tidak pernah tahu siapa yang akan menang. Semua ditentukan oleh juri berdasarkan berbagai faktor penilaian,” tegasnya.
Terkait perawatan, Deden mengakui bahwa domba Garut untuk seni ketangkasan membutuhkan perhatian khusus. “Perawatannya berbeda dengan domba biasa. Ada pijat khusus, salon domba, pakan dan vitamin khusus. Biayanya cukup besar,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, beberapa domba di padepokannya memiliki nilai jual tinggi. “Ada yang harganya puluhan juta, bahkan yang pernah juara bisa terjual di atas seratus juta rupiah. Kami juga pernah meraih berbagai prestasi, mulai dari juara satu hingga Best of The Best, bahkan pernah masuk lima besar di ajang Piala Presiden,” tuturnya.
Menurutnya, “Piala Ayam Ningrat Vol. I” menjadi salah satu kompetisi paling bergengsi karena diikuti peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Cianjur, Pangandaran, Indramayu, hingga Majalengka.
“Ini ajang bergengsi, apalagi hadiah utama Best of The Best berupa mobil. Hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat ikut ambil bagian,” pungkasnya.
***DM62







